Beranda Berita K MAKI : Ada Apa dengan Kisruh Holding PT Pupuk Indonesia ?

K MAKI : Ada Apa dengan Kisruh Holding PT Pupuk Indonesia ?

89
Deputy K MAKI Feri Kurniawan dan Boni Balitong.

Sumsel24.com PALEMBANG – Menjadi tanda tanya besar masyarakat terkait kisruh Holding PT Pupuk Indonesia tak usai – usai dan semakin mengungkap dugaan ada ketidak beresan dalam manajemen PT Pupuk Indonesia ungkap Komunitas Masyarakat Anti Independent (K MAKI).

“Sampai saat ini belum jelas proses hukum di Kejaksaan RI terkait dugaan korupsi ekspor pupuk di bawah harga ambang batas bawah atau COGS atau HPP,” papar Bony Balitong Koordinator K MAKI.

Sementara itu Deputy K MAKI Feri Kurniawan menambahkan pendapat Bony Balitong dan berucap, “Saya khawatir ekspor pupuk di bawah harga COGS dan merugikan Holding Pupuk Indonesia bukan hanya terjadi di PT Pusri tapi juga di anak – anak perusahaan holding seperti di Pupuk Iskandar Muda, Kaltim dll sehingga kalau di akumulasi mencapai trilyunan rupiah,” jelas Deputy K MAKI Feri Kurniawan.

“Dan mungkin sudah terjadi beberapa tahun dan mungkin saja berdampak pada harga pupuk subsidi yang naik lebih dari 100%,” ucap Feri Kurniawan.

“Perkara dugaan korupsi di Bank Sumsel Babel mungkin juga dampak dugaan ketidak beresan manajemen anak usaha Holding Pupuk Indonesia,” kata Bony Balitong timpali pernyataan Deputy K MAKI.

Baca Juga :  Jalan Rusak Parah, Bupati MUBA Surati Pusat Minta Segera Perbaiki

Direktur Keuangan BUMN PT Pupuk Indonesia Listiarini Dewajanti dikabarkan mengundurkan diri. Alasannya karena ingin berkiprah di masyarakat namun alasan ini terkesan klise yang diduga untuk menutupi ketidak beresan manajemen Holding Pupuk Indonesia menurut K MAKI.

“Dugaan korupsi Bank Sumsel Babel terkait PT Rekind yang diduga ingkar janji dengan sub kontraktor PT Gatramas Internusa (PT GI) dan akibatnya Komisaris PT Gatramas Internusa Agustinus Judianto terhukum 8 tahun dan denda 13,4 milyar pada putusan kasasi,” jelas Deputy K MAKI Feri Kurniawan.

“Apakah karena ingin terlibat dalam kerugian sekitar Rp1,7 triliun yang diduga terjadi di PT Rekayasa Industri/Rekind anak usaha PT Pupuk Indonesia Dirkeu Holding undur diri,” ujar Bony Balitong.

“Beredar isue tak sedap kerugian ini akibat bisnis Holding PT Pupuk Indonesia dengan kakak Menteri BUMN yakni Garibaldi Thohir pada proyek pembangunan pabrik amonia di Banggai tapi isue ini perlu pembuktian,” ujar Deputy K MAKI Feri Kurniawan.

“Namun yang pasti dalam setahun direktur keuangan berganti nyaris tiga kali. November 2020, Eko Taufik Wibowo menggantikan Indarto Pamoengkas. Delapan bulan kemudian (Juli 2021), Eko digantikan Listiarini Dewajanti,”

Baca Juga :  Kompensasi Perusahaan Tambang Macet, Masyarakat Merapi Geruduk DPRD Sumsel

“Urusan pupuk adalah urusan sensitif, menyangkut subsidi langsung pemerintah Rp25 triliun per tahun. Anehnya terjadi kenaikan harga pupuk subsidi yang diduga karena core bisnis damping harga ekspor pupuk,” tutup pendapatnya Deputy K MAKI Feri Kurniawan.

Pembangunan pabrik amonia senilai US$ 830 juta adalah fakta yang jelas berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengendalian Biaya dan Manajemen Proyek Tahun 2016, 2017, dan 2018 pada PT Rekayasa Industri No. 15/AUDITAMA/VII/PDTT/06/2020 tanggal 10 Juni 2020.

Restatement atau penyajian kembali dalam Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Tahun 2020 dimana Laba tahun 2019 sebesar Rp3,7 triliun diubah menjadi Rp2,9 triliun!

Agreement antara PAU dan Rekind tanggal 12 Agustus 2020 yang diteken oleh Chander Vinod Laroya (Presdir PAU) dan Yanuar Budinorman (Dirut Rekind) terkesan menyepakati berhentinya segala langkah hukum arbitrase maupun laporan pidana. KPK selaku institusi terdepan pemberantasan korupsi entah kenapa sepertinya diam membisu.(red)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here